25.7.17

Masjid Lautze 2


“Mbak.. mbak restorannya sudah buka?” ujar seorang tamu. Pertanyaan itu membuat Jesslyn (22), Humas Masjid Lautze 2 kaget sekaligus geli. Bagaimana tidak, bangunan yang sehari-harinya digunakan untuk beribadah itu pernah disangka restoran oleh orang awam. Arsitektur Masjid Lautze ini memang unik dan terletak di antara ruko-ruko, sehingga pernah mengecoh pengunjung. Jika dilihat dengan seksama, bentuk bangunan masjid ini merupakan perpaduan budaya China dan Timur Tengah, yang disesuaikan dengan lingkungan sekitar. “Masjid ini diarsiteki oleh Pak Umar. Ia yang mendesain kubah berbentuk setengah bawang dengan banyak celah, agar bangunan ini mempunyai ciri sebuah masjid, tetapi tidak menganggu ventilasi mess karyawan Hotel Istana yang terletak di atas masjid ini,” tutur Jesslyn. Selain memiliki pintu kaca, masjid ini juga dipasangi pintu model rolling door  yang dikunci pada malam hari demi keamanan.

Masjid Lautze 2 sehari-harinya memang tidak selalu diramaikan jamaah. Tak seperti masjid-masjid lain yang pintunya hampir selalu terbuka lebar, pintu masjid ini nyaris selalu dalam keadaan tertutup. Eksistensi Masjid Lautze 2 akan nyata terlihat pada hari Jumat, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Seperti pada suatu Jumat di awal bulan Oktober 2010, pukul 11.00 siang, pengurus masjid sudah sibuk mempersiapkan peralatan untuk Salat Jumat. Sound system diletakkan di luar masjid agar khotbah dan suara imam dapat didengar jelas oleh para jamaah. Tikar untuk alas salat diamparkan tak hanya di dalam masjid, tetapi hingga ke trotoar di sekitar masjid, mulai dari belokan Jalan Lembong menuju Jalan Tamblong, terus sampai hampir dekat Jalan Kejaksaan. Untuk mempermudah jamaah yang belum bersuci, keran-keran untuk mengambil air wudu pun disediakan di trotoar.

Tepat saat adzan berkumandang para jamaah yang hampir semuanya laki-laki bergegas menuju masjid. Jika beruntung mereka akan mendapatkan tempat yang terlindung dari sinar matahari. Namun jika terlambat, mereka harus rela kepanasan dan menanggung risiko kehujanan. Para jamaah yang kebagian salat di luar masjid, awalnya mengisi tempat-tempat yang disediakan mulai dari belokan dan terus bergerak ke arah kiri. Jika kebetulan jamaah Salat Jumat sangat ramai, seperti hari itu, yakni lebih dari 230 jamaah, maka yang datang belakangan, ada yang sampai harus salat di antara motor-motor yang diparkir di trotoar dan safnya agak terpisah dengan jamaah yang lain. Menurut Jesslyn, pernah ada wacana untuk menutup sementara Jalan Tamblong tiap waktu Salat Jumat, agar para jamaah tidak terganggu dengan bisingnya kendaraan yang lalu lalang. Selain itu juga, agar tersedia tempat salat yang lebih luas. Namun hal ini sangat sulit dilakukan, mengingat Lautze terletak di jalan utama. Jadi yang dapat dilakukan hanyalah menyiasati segala keterbatasan.

Usai Salat Jumat, para jamaah segera kembali menuju ke tempat aktivitasnya masing-masing. Dari kerumunan jamaah yang meninggalkan masjid, etnis TIonghoa tak tampak menonjol. Mayoritas jamaah adalah warga sekitar atau karyawan yang lokasi kantornya dekat dengan masjid. Nyaris tak ada jamaah berkulit kuning dengan mata sipit, yang ada justru jamaah berkulit hitam, berpostur tinggi dan bermata besar. Menurut pengurus masjid, kedua jamaah tersebut adalah keturunan Pakistan yang bermukim di Jalan Tamblong.

Soal jamaah Masjid Lautze 2 yang mayoritas bukan etnis Tionghoa ini diamini pula oleh Rohmat (65). Sudah tiga tahun berturut-turut pedagang bacang keliling ini selalu Salat Jumat di Masjid Lautze 2. Bila adzan sudah memanggil ia akan segera bergerak dari tempat mangkalnya di Puskesmas Tamblong menuju Lautze, memarkir gerobaknya di tepi jalan, lalu menunaikan salat. “Ah, kalau Salat Jumat di sini mah hampir tidak ada orang Chinanya. Kalau pun ada paling satu dua,” kata Rohmat.

Sebetulnya, misi utama pendirian Masjid Lautze 2 adalah untuk memfasilitasi golongan non-muslim yang ingin mengenal Islam lebih jauh, khususnya bagi etnis Tionghoa. Namun tidak berarti lokasi masjid harus berada di daerah Pecinan. “Kami di sini ingin berbaur. Selain itu, dasar pemikiran kami mendirikan Lautze 2 di sini adalah karena di daerah ini tidak ada masjid. Kami ingin memfasilitasi para karyawan yang bekerja di sekitar sini,” kata Jesslyn. Dalam perkembangannya, jamaah masjid ini kebanyakan berasal dari RW 06, yakni warga yang tinggal di sekitar Braga. Kecintaan warga sekitar terhadap Lautze 2 tercermin saat dahulu masjid ini masih berstatus sewa. Untuk membiayai sewa dan pemeliharaan masjid, warga sekitar sampai rela mengumpulkan kencleng agar Lautze 2 tetap bertahan di sini.

Keberadaan Lautze 2 ternyata memang mengundang antusiasme masyarakat non-muslim yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Islam. Beberapa dari mereka tak segan berkunjung untuk memuaskan keingintahuannya. “Mungkin mereka merasa familiar dengan kondisi masjid yang serba merah, juga dengan pengurus masjid yang merupakan keturunan Tionghoa, sehingga mereka merasa nyaman. Kami di sini juga berusaha sebaik-baiknya untuk menjawab pertanyaan dan keingintahuan mereka. Dulu banyak yang sering tanya soal kaitan Islam dengan teror bom. Kalau pertanyaan ringannya, biasanya sih yang menyangkut perayaan Imlek, seperti apakah di Lautze 2 ada perayaan. Sebetulnya, di sini kami tidak memiliki agenda khusus. Cuma kalau pas imlek, kami sering bercanda soal pembagian angpau saja,” ujar dia sambil tertawa. 

Dari orang-orang yang berkunjung ke Lautze 2, ada yang kemudian memutuskan untuk menjadi mualaf, meski jumlahnya tak banyak. Sebagian lainnya menjadi pengunjung tetap yang datang lagi dan lagi. Tiap bulannya, Masjid Lautze 2 memfasilitasi rata-rata dua hingga tiga orang untuk menjadi mualaf. Namun menurut Jesslyn, dalam prosesi ini Lautze 2 tidak akan serta merta memberikan sertifikat Islam kepada para mualaf. “Kami tidak ingin sertifikat tersebut disalahgunakan, seperti untuk meminta-minta bantuan. Oleh karena itu, kami akan menahan dulu sertifikat tersebut sekitar empat bulan. Setelah melewati masa pembinaan dan sang mualaf dinilai sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri, iman dan Islamnya sudah tak lagi goyah, barulah kami berikan sertifikatnya,” ujar Jesslyn.

Pengurus Lautze 2 berpesan kepada siapa pun yang berniat melihat Lautze 2 dari dekat, sekaligus berkunjung, tak usah ragu. Selama memiliki niat yang baik atau ingin beribadah, semua orang akan diterima. Jika pintu kaca Lautze 2 tertutup, tak usah ragu untuk membukanya, selama waktu belum menunjukkan pukul 17.00. Terkecuali pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada bulan Ramadhan, Lautze 2 selalu menyelenggarakan Salat Tarawih berjamaah, sehingga dibuka hingga malam. Jika sehari-harinya pintu kaca selalu tertutup, itu dikarenakan masjid ini berada di pinggir jalan utama. “Kalau tidak ditutup, takutnya suara bising dari jalan mengganggu jamaah yang sedang salat. Selain itu, debu juga gampang sekali masuk,” kata Jesslyn. Jadi jangan khawatir, tak perlu berkulit putih, bermata sipit atau berbaju merah untuk diterima di sini. Selama bertujuan baik, semua orang dipersilakan untuk berkunjung.   

Masjid Lautze 2
Alamat  
Jalan Tamblong 27 Bandung
Email
Tahun berdiri
1997
Di bawah naungan
Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) yang berpusat di Jakarta
Tujuan pembangunan
Masjid kedua yang dibangun YHKO ini merupakan pusat informasi tentang Islam bagi etnis Tionghoa dan golongan non Muslim lainnya.
Jam buka
09.00 – 17.00
Luas
Kurang lebih 42 m2
Kapasitas
50 orang jamaah
Ketua DKM 2010
Ku Khie Fung (Fung Fung)


23 Oktober 2010




15.3.17

Pasar Buku dan Majalah Bekas Cikapundung

Belajar tak selalu harus mahal. Hanya perlu pandai memilah dan memilih, pengetahuan bisa didapat meski budget pas-pasan. Salah satu tempat yang menyediakan sumber pengetahuan dengan harga miring di Kota Bandung adalah pasar buku dan majalah yang berlokasi di Cikapundung Barat. Bagi para kolektor, pasar ini bisa terasa seperti surga. Aneka majalah yang baru lewat beberapa bulan terampar di sepanjang trotoar dalam keadaan yang masih mulus. Tak hanya majalah berbahasa Indonesia, majalah ‘luar’ pun tersedia di sini, seperti “National Geographic”, “Rolling Stone” dan beragam majalah lain, termasuk majalah mode.  

Eksistensi ‘Cikapundung Barat’ sudah terhitung puluhan tahun. Menurut cerita salah seorang pedagang yang bernama Zainudin (40), pasar buku ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Awalnya selain di Cikapundung Barat, para pedagang juga berjualan di trotoar Jalan Asia Afrika. Kemudian para pedagang di Asia Afrika pindah ke Jalan Banceuy. Kemudian tahun 1980-an lapak di Jalan Banceuy yang mayoritas dihuni pedagang buku, tergusur dengan pembangunan Matahari Department Store. Para pedagang buku itu pun akhirnya sebagian pindah ke Jalan Palasari.

Para pedagang yang kini masih bertahan umumnya adalah para penerus para pedagang terdahulu, contohnya Zainudin. Awalnya ia hanya menjadi pegawai salah satu pemilik lapak yang masih terhitung famili, hingga kemudian ia menjadi penerus usaha sang pemilik awal. Demikian pula Zaenal (30), sebelas tahun yang lalu ia melanjutkan usaha rekannya yang sudah jenuh berbisnis majalah.

Meski berjualan di kaki lima, Pasar Buku dan Majalah Cikapundung ini legal dan terorganisir. Jadi para pedagang tak perlu main kucing-kucingan atau harus berkejaran dengan petugas Polisi Pamong Praja. Bahkan menurut Zaenal, para pedagang di Cikapundung Barat ini juga berhubungan baik dengan PT PLN. Sudah puluhan tahun PLN mengijinkan dinding luar kantornya digunakan sebagai tempat bersandar para pedagang. Tak hanya itu, tiap bulan Ramadhan, para pedagang juga diundang untuk buka bersama oleh PT PLN. Menjelang Idul Fitri mereka biasanya akan mendapatkan bingkisan. Sementara tiap Idul Adha, PLN menyediakan daging kurban khusus bagi para pedagang buku dan majalah. Sebagai bentuk timbal balik, para pedagang tertib menjaga kebersihan. Secara rutin mereka bergiliran membersihkan area yang digunakan untuk berjualan.

Selain amparan buku dan majalah di trotoar, ada pemandangan khas lain dari kawasan ini, yaitu deretan gerobak berwarna biru bertuliskan Kopanti Kota Bandung yang terparkir rapi di sisi trotoar. Gerobak-gerobak ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan buku dan majalah yang didagangkan. Usai berjualan, para pedagang akan memasukkan barang-barangnya ke dalam gerobak, lalu membawa gerobak tersebut ke tempat penyimpanan di Jalan Belakang Factory yang terletak tak jauh dari Cikapundung Barat.

Jika diamati jenis buku atau majalah yang dipajang para pedagang di kawasan ini relatif seragam. Namun tiap pedagang cenderung memiliki edisi yang berbeda satu sama lain. Umumnya edisi yang ditawarkan adalah edisi beberapa bulan lalu. Semakin baru edisinya, maka harganya pun akan lebih mahal dibandingkan dengan edisi yang lebih lama. “Biasanya kami menawarkan majalah dengan harga 60-70 persen dari banderol, tetapi di sini bebas tawar-menawar,” ujar Zaenal. Menurut dia, jenis majalah yang banyak dicari oleh para mahasiswa adalah majalah tentang arsitektur, desain grafis, interior dan taman. Para pelajar lebih sering mencari majalah berbahasa Sunda, untuk tugas sekolah. Sedangkan kalangan umum banyak yang berminat pada majalah luar negeri. “Untuk majalah arsitekur, kalau beli di tempat lain cuma dapat satu, di sini bisa dapat tiga. Tapi untuk majalah-majalah arsitektur yang tebal, harganya bisa sampai Rp 100.000. Kalau yang biasa-biasa sih satu eksemplarnya sekitar Rp 30 hingga 40 ribu,” jelas dia. Sementara jenis majalah yang relatif stabil peminatnya adalah jenis majalah otomotif dan musik. “Di sini kami sedia banyak majalah yang berkaitan dengan hobi. Biasanya yang paling lama edisi lima tahun ke belakang. Kecuali untuk majalah tertentu ada yang masih suka cari edisi tahun delapan puluhan. Kalau majalah berita gitu di sini kami jarang yang jual,” kata Zaenal.

Meskipun koleksi majalah di pasar ini relatif lengkap dan beragam, ‘perburuan’ di kawasan ini memerlukan kesabaran dan keberuntungan, karena tidak selamanya barang yang kita inginkan tersedia. Zaenal pun mengamini hal ini, “Kami tidak bisa janji memenuhi semua pesanan, kadang ada saja edisi yang sulit dicari.” Zaenal mengaku biasanya mendapat pasokan barang dari kolektor atau pelanggan majalah. Dalam transaksi, barang yang dibeli dari perorangan dapat dihitung satuan atau kiloan. Namun ia tak hanya mengandalkan penjualan dari perorangan, ia juga kerap berburu barang untuk didagangkan di Pasar Senen Jakarta.

Para pedagang di sini memang menjual jenis majalah yang relatif seragam, tetapi menurut Zaenal para pedagang di sini cenderung berdagang dalam iklim kekeluargaan. Tak kentara persaingan antara satu pedagang dengan yang lain, justru mereka akan saling membantu. Saat ada pembeli yang menanyakan satu edisi tertentu yang tidak dimiliki oleh seorang penjual, biasanya sang penjual akan sukarela mencarikan edisi yang dimaksud ke rekan sesama pedagang. Kebersamaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun membuat para pedagang di Cikapundung Barat memiliki rasa persaudaraan yang tinggi. Malahan jika ada seorang pedagang yang harus meninggalkan lapaknya untuk mengantar keluarga atau kerabat yang sakit, ia dapat mempercayakan barang dagangannya kepada rekannya.

Layaknya dalam tiap perdagangan ada masa merugi dan masa ‘panen’. Namun mengenai hal  ini Zaenal punya pandangan sendiri. Ia merasa nyaris tak pernah merugi. “Jualan majalah kan beda sama jualan makanan. Kalau makanan enggak laku, terus basi kan dibuang. Kalau jualan majalah begini, enggak laku, masih bisa dikilo. Satu hal yang harus diantisipasi oleh para pedagang supaya tidak merugi adalah hujan. Jika barang dagangan sampai basah karena hujan, maka menjadi nyaris tak bernilai lagi. Oleh karena itu, biasanya mereka membungkus ulang majalah-majalah tersebut menggunakan plastik. Pembeli tetap diperkenakan mengintip dahulu isi majalah sebelum membeli. Namun untuk majalah-majalah yang masih benar-benar berada dalam kondisi ‘gres’, yakni yang sudah terbit beberapa bulan lalu, tetapi belum pernah dibuka dan dibaca, maka pembeli hanya diijinkan untuk meneliti judul-judul pada sampul saja.

Menurut Zainudin, sebenarnya sekarang tingkat penjualan buku dan majalah tak lagi setinggi era 1990-an. Ia mengaku kini omzet lapaknya per hari sekitar Rp 100.000 saja. Itu pun tak menentu. “Jika ada langganan yang pesan, baru omzet bisa mencapai Rp 300.000,” kata dia. Namun seperti bisnis lainnya, para pedagang buku dan majalah ini juga memiliki masa laris manis. Pada hari Sabtu dan Minggu, lahan parkir Cikapundung Barat lebih leluasa untuk digunakan pengunjung, karena para pegawai PLN libur. Kesempatan ini digunakan para pelancong dari luar kota yang umumnya orang Jakarta menyerbu Cikapundung Barat. Hal ini agak unik, mengingat Jakarta mempunyai Pasar Senen. Namun menurut Zaenal, kawasan ini tetap diserbu, karena belum tentu barang yang ada di sini ada di Jakarta.

(Done Writing, 22 Oktober 2010)

Pasar Buku dan Majalah Cikapundung

Alamat
Jalan Cikapundung Barat
Jumlah lapak
Sekitar 20
Barang yang dijual
Buku dan majalah
Waktu operasional
Rata-rata 9.00-17.00
Pengelola
Kopanti Kota Bandung, Jl. Nias Dalem No, 8A
Rentang harga
Mulai dari Rp 5.000

4.10.14

Memoar Redaksi SH 147

Pagi ini, tepat pukul 9.00 pagi, saat alarm blackberry berbunyi..
Mematikan alarm, memeriksa recent update BBM, yang terlihat di timeline adalah update sebuah gedung terbakar. Gedung yang sangat saya kenali, tempat menghabiskan waktu minimal 8 jam sehari untuk berfikir, berkreasi, berargumentasi dan melaksanakan misi untuk mencapai visi bersama tim, kala itu.. masa itu.. 


Redaksi luluh lantak (detik.com)

Hari, bulan, tahun berganti. Banyak yang datang dan banyak yang pergi. Sore ini menggali kembali memori yang masih tersimpan dalam bentuk kisah dan dokumentasi digital, pada kurun waktu yang kami habiskan bersama-sama di gedung yang penuh kenangan. 

Redaksi Pikiran Rakyat, Soekarno-Hatta 147 (2007-2012)

Semoga gambar-gambar ini mengingatkan bahwa ruangan-ruangan ini pernah ada. Pernah ada semangat dan kerja keras di sana. Semangat dan kerja keras yang belum berbuah luar biasa, tapi sudah cukup menjadi landasan, untuk siapa pun yang masih ada di sana untuk bangkit lagi. 


(April 2008) Di belakang kami, gedung Redaksi yang pagi ini luluh lantak oleh api.


(September 2008) Ruangan pertama tim riset angkatan 2007 (formasi lengkap) di lt.2. Kini, ruangan ini pun sudah habis dilalap api. 


(2009) Dari 6, 4 yang bertahan. Dari ruangan di lt.2 kami pindah ke lt.1 dan berbagi ruangan dengan Desk Bahasa. Beradaptasi dengan perubahan. 

(2010) Masih berdampingan dengan Desk Bahasa.

(2011) Masih berdampingan dengan Desk Bahasa.

2011 - Perayaan HUT salah seorang Staf PDR. Tampak di ruangan kaca yang menjadi latar foto, bundel-bundel koran "PR" yang diarsipkan sejak puluhan tahun lalu. 
 


(2011) Salah satu sudut ruang dokumentasi. Tempat arsip analog (koran) dan digital tersimpan rapi di lt. 1, tepatnya di bagian belakang gedung utama redaksi.
Di tahun yang sama (2011), akhirnya kami (tim riset) pindah ke lantai II.


(2011) Projek pertama kami setelah pindah ruangan. Bongkar arsip berita Maung Bandung.
Masih mengumpulkan kepingan yang terserak...

20.9.14

Kebun Binatang Bandung

Hawa sejuk dan deretan pohon Palem Raja setinggi kurang lebih 20 meter menyambut langkah para pengunjung Taman Sari yang masuk melalui pintu utama, yakni dari Jalan Kebun Binatang. Semakin ke dalam, kedamaian dan kesejukan akan lebih terasa. Hal ini karena Kebun Binatang Bandung dinaungi ratusan pohon yang berusia puluhan tahun, dan tingginya mencapai 30 hingga 40 meter. Kerindangan barisan pepohonan ini mampu mempertahankan hawa sejuk, meski matahari sedang terik. 


Kebun Binatang Bandung, 2010.
Bagi yang ingin mencari ketenangan dan melarikan diri sejenak dari hikuk pikuk kota, tak ada salahnya untuk sesekali berkunjung ke Kebun Binatang Bandung. Asalkan bukan pada akhir minggu atau libur hari-hari besar, pengunjung kawasan ini tidak begitu ramai. Jadi, pengunjung masih dapat menikmati suasana tenang dan asri. Pikiran kusut dan segala keruwetan akan sedikit terobati dengan berjalan-jalan santai dalam kompleks ini. Belum lagi tingkah polah satwa yang lucu juga sangat menghibur. Salah satu contohnya adalah tingkah seekor kakak tua, yang rajin menyapa siapa pun yang melewati kandangnya. “Halo! Apa kabar?” itulah kata-kata yang kerap ia ucapkan. Ia kemudian akan mendekati pengunjung dan mematuk-matuk kawat yang melingkari kandangnya, seperti ingin diberi makan.

Area Kebun Binatang Bandung pada awalnya adalah sebuah taman yang bernama "Jubileumpark". Sejak pendiriannya taman ini sudah banyak mengalami perubahan. Pembenahan terkni dilakukan sejak tahun 2009. Jika dahulu tak jauh dari pintu masuk, kita akan disambut oleh “Si Belalai Panjang”, maka sekarang kandang gajah dipindahkan ke bagian belakang, berikut wahana gajah tunggangnya. Lokasi kandang gajah sebelumnya kini berfungsi sebagai tempat duduk dan bersantai pengunjung.

Demikian pula dengan kandang singa, harimau dan macan tutul. Dahulu kandang hewan buas ini berdampingan satu sama lain, dan dibatasi oleh jeruji besi. Kini, hewan buas yang umumnya termasuk satwa dilindungi ini, dipisahkan sesuai dengan jenisnya. Kandang baru ini terletak di bagian utara. Area kandang terdiri dari kolam dan ruang terbuka yang cukup luas untuk dijelajahi. Adapun ruangan tertutup untuk menaungi satwa di kala hujan. Pembatas antara hewan buas dan pengunjung pun tak lagi berbentuk terali, melainkan kaca tebal. Pembenahan kandang dimaksudkan mendekati habitat asli, agar koleksi Kebun Binatang Bandung merasa lebih nyaman, meski dalam lingkungan fisik buatan.

Selain memiliki koleksi satwa hingga 218 jenis, dengan jumlah 1.135 ekor, Kebun Binatang Bandung juga memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan yang tidak sedikit. Tanaman-tanaman langka juga dapat dijumpai di sini, salah satunya Pohon Mahoni Badak yang menjulang hingga 40 meter. Pohon ini tumbuh di lahan dekat gerbang masuk Jalan Taman Sari.

Sejarah Kebun Binatang atau yang dahulu sering disebut “derenten” memang lekat dengan taman botani yang menghimpun aneka tanaman hias dan tanaman keras. Sebelum area ini dimanfaatkan sebagai kebun bintang, tahun 1923 taman diresmikan dengan nama "Jubileumpark" untuk memperingati hari perayaan Ratu Wilhelmina dari Belanda. Dahulu sebuah prasasti yang menandai perayaan ini diletakkan di bagian belakang taman. Kini, seperti nasib enam patung peninggalan kolonial di Kota bandung, prasasti ini tak lagi diketahui keberadaannya. 


Tahun 1930, Jubileumpark kemudian berubah fungsi menjadi kebun binatang atas prakarasa Bandung Zoological Park (BZP), yang dipelopori oleh Hoogland, seorang direktur Bank DENIS. Kebun binatang ini kemudian mendapat pengesahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 12 April 1933.
Selama masa pendudukan Jepang dan revolusi, Kebun Binatang Bandung sempat telantar, hingga kemudian direhabilitasi pada tahun 1948. Kemudian pada tahun 1956 BZP sebagai pengelolanya dibubarkan. Sebagai gantinya, didirikan Yayasan Margasatwa Tamansari tahun 1957, atas inisiatif R. Ema Bratakoesoema.

Selain mengurus dan melindungi satwa penghuni kebun binatang, untuk menjaga kelestarian pepohonan, pengelola Kebun Binatang Bandung menargetkan menanam sekitar 50 pohon dalam jangka waktu satu bulan. Sehingga selama satu tahun sedikitnya ada 600 pohon baru yang ditanam. Jumlah ini biasanya terlampaui. Bahkan jumlah pohon yang ditanam bisa mencapai 1.000 per tahunnya. Pohon yang ditanam selain bertujuan untuk menghijaukan dan merindangkan, juga memiliki manfaat sebagai pakan hewan. “Dengan cara ini, kebutuhan pakan hewan diharapkan dapat ditunjang dari hasil tanaman yang ada, sehingga anggaran untuk pakan tidak membengkak,” ujar Rohman Suryaman, dari bagian tata lingkungan Kebun Binatang. Upaya penanaman pohon ini juga menjadi salah satu jalan untuk menwujudkan cita-cita pengelola Kebun Binatang Bandung, yakni menjadikan kebun binatang sebagai “Leuweung Bandung” atau "Hutan Bandung".


Koleksi satwa Kebun Binatang Bandung, 2010.


Kebun Binatang (Jubileumpark)
Lokasi
Jl. Kebun Binatang No. 6 Telp. 2502770
Peresmian
1923 Jubileumpark diresmikan
Tahun Pembuatan
1930 Kebun Binatang dibangun
Luas
± 14 ha
Fasilitas
Museum  Zoologi, wahana permainan anak-anak, wahana gajah dan unta tunggang
Pengelola
Yayasan Margasatwa Tamansari Bandung Zoological Garden
 

Written on: August 2010
A piece of work with a great team, but never officially published. Thanks to all PDR team, for an amazing journey in a short term project. 

14.9.14

Pasar Koran Cikapundung



Pagi buta, saat kebanyakan orang masih lelap dalam balutan hangat selimut, sekelompok orang sudah terlibat dalam hiruk pikuk di Kawasan Cikapundung Timur yang terkenal sebagai bursa koran se-Bandung Raya. Sejak pukul 4.30 mereka sudah sibuk mengangkut, menghitung dan membagi-bagikan koran, tabloid dan majalah yang terbit hari itu kepada sub agen, pengecer dan loper di lapaknya masing-masing. Maklum semua bacaan itu harus sesegera mungkin diantar ke tangan pembaca yang haus berita, sedangkan sebagian lainnya akan dijajakan di jalanan oleh para pengecer, seperti para pedagang asongan.

Agen-agen koran yang mangkal di Cikapundung rata-rata adalah pemain lama. Beberapa agen bahkan sudah menekuni profesi ini sejak tiga puluh tahun lalu. Tak heran jika mereka terlihat akrab satu sama lain dan masing-masing orang hafal setiap lapak berikut nama pemiliknya. Selain itu profesi sebagai agen koran juga bisa dikatakan sebagai usaha turun temurun. Para agen perintis yang sudah tidak muda lagi biasanya menyerahkan usahanya kepada generasi kedua, atau pada anak buahnya.

Salah seorang agen senior yang masih langsung turun tangan mengurus bisnis distribusi koran ini bernama Ridwan Ramdon (74). Dari bibirnya lah mengalir cerita soal bursa koran dan kondisi para agen dari masa ke masa, berikut sejarah berpindah-pindahnya bursa koran dari Stasiun Hall, ke Lanud Husein, hingga sekarang menetap di tepi Sungai Cikapundung. Sebelum tahun 1970, bursa koran Bandung memang tidak memiliki lokasi tetap. Seingat Ridwan, setelah dari Lanud Husein, bursa koran sempat pula berpindah ke Jalan Arjuna, Stadion Sidolig, di belakang dan di depan Hotel Savoy Homann, Sarinah, juga di Cikapundung Barat. “Berkat perantara kavalerilah, akhirnya bursa koran bisa menetap di Cikapundung Timur, seperti sekarang,” ujar dia. Namun lokasi Cikapundung yang berdekatan dengan Gedung Merdeka ini juga masih membuat para agen koran harus siap-siap mengungsi sementara, jika kawasaan Asia Afrika akan dikunjungi para tamu dan tokoh penting dari luar negeri. Biasanya mereka akan mengungsi ke kawasan Banceuy dengan resiko kerepotan mencari sub agen, pengecer dan loper langganan.

Di masa lalu, usaha sebagai agen koran ini cukup menggiurkan. Ridwan mengaku bisa membeli lima rumah, empat motor dan dua buah mobil, dari hasil mendistribusikan koran. Kini ia mengaku hanya mampu meraup keuntungan sekitar Rp 3 juta saja per bulan. Itu pun masih harus ia bagi-bagi lagi. “Dulu bisnis koran ini enak sekali, kita punya waktu tiga bulan untuk setor. Setoran bulan pertama dibayar di bulan keempat, setoran bulan kedua dibayar di bulan kelima. Sekarang tidak begitu lagi, karena dari pengalaman banyak agen yang nunggak, uangnya terpakai untuk ini itu. Jadi mereka punya utang sampai ratusan juta ke penerbit,” papar dia. Oleh karena itu, sekarang diberlakukan sistem kontan, bahkan ada pula yang harus bayar dimuka. Dengan sistem yang dulu, koran yang diambil hari ini boleh dibayar besok. Akhirnya banyak agen yang ditipu oleh pengecer, “Banyak yang ambil koran lalu gak bayar,” kata dia.

Perputaran uang di bursa Cikapundung setiap harinya tidak bisa dibilang kecil. Menurut penuturan salah satu karyawan dari Rahayu Agency yang bernama Thias (30), dalam satu hari agennya akan mendistribusikan surat kabar kepada sekitar 20 sub agen dan 40 loper, dengan omzet mencapai Rp 10 juta. Jika dirata-ratakan tiap agen beromzet Rp 10 juta per hari dan ada sekitar 105 agen dan sub agen yang menginduk ke PASKAM, maka dalam satu hari nilai jual beli di bursa ini mencapai Rp 1 milyar lebih.

Kini bisnis koran cetak harus diakui sudah melalui masa keemasannya. Persaingan keras dengan berbagai media lain, seperti televisi dan internet juga membawa dampak bagi para agen surat kabar. Sekitar tahun 1965, saat heboh peristiwa Gestapu, bisnis koran sangat marema. Orang banyak yang mencari koran, karena ingin mengikuti perkembangan peristiwa tersebut. Namun menurut Ridwan, sekarang tidak demikian. Tidak banyak berita koran yang dapat menarik minat pembaca. “Misal jika ada pembunuhan di Kosambi, maka mungkin yang cari-cari koran, ya cuma orang-orang Kosambi saja. Selain itu meski banyak koran, beritanya juga relatif seragam. Padahal banyak hal yang bisa dijadikan berita menarik, kalau kita tidak takut menulisnya”, ujar dia.

Fenomena laku kerasanya surat kabar dahulu juga terjadi saat pengumuman UMPTN atau yang sekarang dikenal dengan nama SNMPTN. Pada waktu pengumuman SNMPTN belum dapat diunduh melalui internet, Cikapundung Timur selalu diserbu oleh para calon mahasiswa yang penasaran dengan hasil ujiannya. “Dulu, anak-anak yang mau lihat pengumuman SNMPTN pada nyerbu ke sini. Bahkan ada yang kalau namanya muncul di koran, terus bagi-bagi rejeki. Ada yang ngasih Rp 20.000 untuk koran seharga Rp 2.000. Kembaliannya tidak dia ambil. Sekarang mah boro-boro, malah koran didrop terus dibagi-bagikan gratis sewaktu pengumuman,” kenang dia.

Selain persaingan dengan beragam media, surat kabar pun harus bersaing dengan sesamanya. Memasuki orde reformasi beraneka koran menjamur dan mengusung semangat kebebasan pers. Akibatnya persaingan makin sengit dan menurunkan tiras koran-koran yang lebih dulu ada, karena pembaca yang tidak puas dengan koran tertentu, lebih bebas untuk pindah berlangganan koran lain. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi para agen, khususnya untuk meningkatkan kualitas pelayanan, utamanya jangan sampai koran terlambat ke tangan pembaca, serta bagaimana agen membina hubungan yang baik dengan sub agen dan pengecer.

Namun lepas dari pasang surut bisnis surat kabar, kawasan Cikapundung akan tetap dikenang sebagai salah satu bursa koran terbesar di Indonesia yang terletak di jantung kota Bandung. Bursa ini juga tak hanya diperuntukkan bagi sub agen dan pengecer. Mereka yang ingin mendapatkan koran, tabloid atau majalah terbaru dengan harga miring juga akan dilayani dengan baik, bahkan bisa mendapat selisih harga Rp 1.000 atau lebih, dari harga resmi yang tertera untuk tiap eksemplar surat kabar dan majalah
 
Suasana pagi di depan Kantor Paskam, Cikapundung Timur.

Distribusi koran dari agen ke pengecer.

Ridwan Ramdon, salah satu agen senior.


Bursa Koran Cikapundung
Lokasi
Jalan Cikapundung Timur No. 2
Organisasi
Persatuan Agen Surat Kabar dan Majalah (PASKAM), sebelumnya bernama Ikatan Penyalur Surat Kabar dan Majalah (IPSUKAM)
Berdiri
PASKAM lahir 1 November 2006
Anggota PASKAM
105, yang terdiri dari agen dan sub agen


 Written on: October 2010, project with Kania Dewi

After dawn on fasting month, i pick my partner up. We're heading directly to Cikapundung. Yes, it was cold! But this is such a great experience, to watch the crowd and the distribution of newspaper hand by hand. There were interaction, direct interaction! Face to face.. since years ago. It takes time of course. It's not something instant like pressing the keyboard, type the address and press enter.. But here, we meet people, we're asking them, we're trying to get to know them.. And it is something that makes us feel we're "human"..