Pages

4.6.10

Jus Pidada - Tur Pantura (3)

Usai menyaksikan lelang hasil tambak dan lelang hasil tangkapan nelayan di Blanakan, tiba waktu Jumatan bagi para pria. Setelah para pria selesai beribadah baru kami bersantap siang dengan aneka penganan yang berbahan dasar ikan, kepiting dan udang dengan bumbu yang mantap. Sungguh lezat rasanya!

Kami makan siang di area penangkaran buaya, Blanakan, Subang. Udaranya cukup panas, maklum kami masih dekat sekali dari pantai. Namun hawa panasnya kalah oleh rasa hidangan. Hmmm..nyam nyam.. :)

Selagi manis pedas bumbu masih terasa di lidah, kami disuguhi minuman segar dari buah asli. Namanya Jus Pidada. Eitsss.. jangan dipelesetkan jadi buah d*d* ya.. hihihi..

Pidada masih tergolong tanaman berjenis mangrove yang tumbuh dalam ekosistem pantai, nama lainnya adalah Perepat. Pada tegukan pertama, jus pidada masih terasa asing di lidah, namun setelah beberapa saat, rasanya dapat digambarkan sebagai perpaduan antara buah pisang dan stroberi. Aroma dan rasanya seperti pisang, sedangkan teksturnya mirip jus stroberi. Manis, asam.. menyegarkan..

Untuk penggemar aneka jus.. semoga bisa segera mendapatkan buah ini dan merasakan nikmatnya..

"Segelas Jus dari Buah Pidada"


3.6.10

Mr. Slaker - Tur Pantura (2)

"Lelang"


Mungkin sudah banyak yang pernah mendengar soal Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pernah melihat interaksi antara juru lelang dan pembelinya. Namun lelang yang akan dibahas kali ini sedikit berbeda. Komoditas yang dilelang bukan hasil tangkapan nelayan, melainkan hasil tambak, karena itu fasilitas lelang yang satu ini dinamakan Tempat Pelelangan Hasil Tambak (TPHT). Pada (30/4) yang lalu, saya mendapatkan kesempatan berkunjung ke daerah Blanakan, Kab Subang, untuk melihat proses lelang hasil tambak, yang mayoritas berjenis udang windu, udang vaname dan udang jenis lainnya, serta ikan bandeng.

Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara dengan dialek setempat yang kental, “Tiga puluh ribu, tiga puluh ribu lima ratus, Tiga puluh satu ribu, tiga puluh satu ribu lima ratus. Udang windu sekilo seton tiga puluh satu ribu..” Kalimat barusan terus dirapal sang juru lelang atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘slaker’ hingga tak ada lagi pembeli atau ‘bakul’ yang sanggup membayar dengan harga lebih tinggi. Konon istilah slaker ini berasal dari bahasa Belanda dan terus digunakan hingga sekarang oleh penduduk setempat.

Di tempat lelang tersebut, terdapat beberapa petugas berseragam yang bertugas sebagai juru tulis, petambak sekitar yang membawa hasil panennya dan seorang anak muda yang bertugas menempatkan barang lelang yang sudah laku di keranjang tiap-tiap bakul. Ada pula seorang slaker yang tugasnya cukup rumit, yakni ikut menimbang ikan atau udang dari petambak, menaksir harga, merapal berat dan harga dengan kecepatan tinggi dan memperhatikan isyarat para bakul.

Namun sungguh tak mudah mengerti interaksi antara slaker dan bakul ini. Ternyata ada kode-kode khusus yang diberikan bakul pada sang slaker jika berminat terhadap barang yang tengah dilelang, seperti menanggukkan kepala, berkedip, memalingkan muka atau menggerakkan jari. Selebihnya para bakul hanya terlihat seperti orang yang menonton pertunjukkan dengan duduk di bangku panjang di hadapan slaker, sambil sesekali menulis, mengobrol dan merapikan ikan dan udang yang sudah dibelinya.

Proses lelang hasil tambak ini diadakan setiap hari oleh sebuah koperasi dengan jumlah bakul yang relatif konsisten, yakni sekitar sepuluh orang. Sementara proses lelang sendiri diadakan mulai sekitar pukul 08.00 hingga tengah hari. Selama itu pula sang slaker tak henti-henti merapal harga dan berat barang lelang yang satuannya dipelesetkan dari ons menjadi ton, karena katanya lebih sulit untuk menyebut ons dibanding ton.

Saya dan teman-teman terus mengamati proses lelang hari itu hingga selesai, sehingga kami punya waktu untuk menanyai sang slaker usai ia bekerja. Sesekali kami bersenda gurau soal sang slaker, salah satunya mengenai dugaan kami bahwa mungkin setelah bekerja sang slaker tidak akan berbicara lagi sepanjang sisa hari karena serak dan kehabisan suara. Namun ternyata usai lelang, ia masih bisa bicara dengan lancar menuturkan pengalamannya.

Sang slaker bernama Nanang, usianya 30-an dan ia sudah cukup lama bekerja sebagai juru lelang. Ia memberitahu kami soal sistem lelang di TPHT tempat ia bekerja, juga menjelaskan kode-kode khusus antara bakul dan slaker. Saat ditanyakan mengenai pengalaman pertamanya, Nanang menjawab, “Dulu waktu pertama kali lelang, pulang kerja, saya gak bisa ngomong, tenggorokan saya sakit dan memang belum bisa secepat sekarang ngomongnya. Tapi lama-lama akhirnya biasa.” Kami pun tertawa mendengarnya dan hingga perjalanan pulang masih takjub dengan kecepatannya merapal dan kejeliannya membaca isyarat 10 orang bakul yang nyaris tak terlihat orang awam.

"Mr. Slaker"