Pages

27.8.12

Lebaran & Cerita Macet

Lebaran.. kata ini sebetulnya identik dengan pulang kampung, kumpul keluarga, silaturahmi, maaf-maafan. Namun, kini ada objek yang semakin sulit dilepaskan dari kata "lebaran", yakni macet. Fenomena kemacetan ini sudah mulai parah sejak beberapa tahun ke belakang, dan bertambah parah hingga kini. Meskipun, di beberapa titik yang kemacetannya terbilang paling parah, pemerintah sudah berusaha memperbaiki infrastruktur dengan membangun ini itu, kemacetan parah, hingga macet total tetap saja terjadi. Sebut saja proyek "Lingkar Nagreg", yang hingga kini belum juga rampung 100 persen. Proyek ini adalah salah satu upaya mengatasi kemacetan yang terjadi di kawasan Nagreg. Namun, tetap saja problema klasik ini tidak terpecahkan. 

Ada ungkapan yang akhir-akhir ini sering terdengar, "Kalau mudik gak macet, ya bukan mudik namanya." Jujur saja, ungkapan ini mengganggu, sangat mengganggu. Bayangkan saja, jarak yang normalnya hanya ditempuh dalam waktu satu setengah jam, saat musim mudik bisa ditempuh dalam waktu 10 jam. Ya!! Sepuluh jam.. dan ini bukan omong kosong. Memang suasana lebaran itu identik dengan keramaian, tetapi jika keramaian itu berarti kemacetan parah yang harus dihadapi pemudik sekarang ini, itu sama sekali tidak manusiawi. Di jalur mudik, ribuan kendaraan mengular hingga berkilo-kilometer. Kemudian, berhenti sama sekali selama berpuluh menit hingga hitungan jam, karena faktor jalan yang menyempit, atau sistem buka tutup yang diterapkan aparat kepolisian.

Saya tidak suka menghadapi kemacetan yang seperti ini. Mungkin banyak orang lain yang juga tidak suka. Mungkin solusi paling gampang dan paling sinis adalah, "Ya diam saja di rumah kalau tidak mau kena macet!" Tidak salah juga sih ungkapan di atas. Kalau memang itu jadi solusi, siapa yang harusnya menyuarakan hal ini? Supaya semua orang tidak usah macet-macetan, tidak usah mudik.

Hal lain yang juga mengerikan adalah, banyaknya pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua, dan membuat "bagasi" tambahan dengan menggunakan kayu, kardus, dan beragam bahan lainnya. Untuk hal ini, sebenarnya orang Indonesia itu kreatif sekali lho! Tak hanya itu mereka pun berboncengan bertiga hingga berempat, alias satu keluarga. Ada ayah, ibu, dan anak-anak. Tidak sedikit dari mereka yang tidak memakaikan anak-anaknya helm, dan membiarkan kaki anak-anaknya yang sudah beranjak besar "melambai-lambai" karena tidak ada pijakan. Bayangkan, berboncengan dua orang saja "handling" motor sudah cukup sulit, apalagi dalam kondisi macet. Lah ini berempat plus barang-barang??!! 

Belum lagi, cuaca kala lebaran belakangan ini kurang bersahabat. Matahari sangat terik, suhu udara sangat panas. Risiko dehidrasi pun sangat tinggi bagi pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua. Untuk menyiasati kondisi ini, banyak pemudik yang mulai perjalanannya sejak dini hari, terutama kendaraan roda. Untuk kendaraan roda empat, berharap dengan berangkat dini hari, tidak perlu terjebak kemacetan. Sehingga, jam tiga pagi keramaian di jalur mudik, seperti layaknya jam 8 atau 9 malam. Mendekati pukul setengah empat pagi, nyaris semua orang menepikan kendaraannya di tempat-tempat yang menyediakan santapan sahur. Walhasil, antrean panjang dan mengular di tempat-tempat makan ternama pun terjadi. Lamanya waktu pelayanan, menyebabkan para pemudik baru selesai menghabiskan makanan sahurnya pada saat adzan subuh berkumandang. Ada pula yang masih mengunyah makanan saat adzan. Hehehe... 

Lepas shalat subuh, iring-iringan kendaraan pun berbarengan kembali ke jalan raya. Saat matahari semakin tinggi, iring-iringan kendaraan roda dua pun makin memadati jalan raya. Menyelusup, mencari celah di antara antrean kendaraan roda empat. Tidak tertib, mengesalkan, tetapi juga mengkhawatirkan. 

Tujuan saya adalah Leles, Garut. Bagi yang hafal rute mudik ini, bayangkan bahwa kemacetan sudah terjadi sedari Rancaekek. Terbayang? Di tengah penat, suntuk, yang bisa dilakukan adalah terus-terusan mengecek "recent update" di BBM. Di depan sana, ternyata sudah ada yang lebih dahulu terjebak kemacetan mengesalkan ini. Ia pun memasang status: "Bandung-Garut 10 jam.. Duuuhh Gustiii..." Nah, nasib saya dan rombongan bakal tidak jauh dari status ini, dan benar sajaaa... 

Kondisi jalan yang menanjak dan di beberapa titik cukup curam, menyebabkan kendaraan-kendaraan yang tidak cukup fit terpaksa menepikan kendaraannya, entah karena "over heat" atau masalah mesin lainnya. Bau kopling pun terus-menerus tercium dari arah luar. Asap sudah terlihat mengepul dari beberapa kendaraan. Penyejuk udara tidak bisa terus-terusan dinyalakan untuk mengatasi bebauan dan panas. Bisa-bisa kendaraan sendiri yang over heat. Beberapa lembar koran pun disulap jadi kipas, yang sebetulnya kalah total melawan sengatan matahari, padahal baru jam delapan pagi. 

Dan di puncak kelelalahan, "Braaaaaakkk!!" terjadilah tabrakan. Alasan si penabrak sangat sederhana, ia tak kuasa menahan kantuk setelah melewati kemacetan yang nyaris sudah delapan jam ini. Oleh karena, tidak ada yang "ngotot", perdamaian pun tercapai, dengan beberapa poin yang disepakati. 

Risiko kecelakaan hanya satu dari sekian banyak imbas kemacetan yang sebetulnya harus dipertimbangkan, jika kondisi ini terus-menerus terjadi setiap tahunnya. Hal lainnya menurut saya adalah pemborosan! Tepatnya, adalah pemborosan BBM. Silakan dihitung berapa liter BBM yang harus dibuang dalam kemacetan, dimana jarak yang harusnya bisa ditempuh selama 1+1/2 jam, kini harus ditempuh dalam waktu 10 jam. Jangan lupa kalikan pula dengan ribuan kendaraan yang terjebak dalam kemacetan tersebut. 

Jika banyak keluarga mampu membeli kendaraan roda empat terbaru dengan harga yang tidak murah, kenapa pemerintah "belum" mampu membangun infrastruktur untuk menampung ratusan ribu/jutaan kendaraan tersebut? Ada yang punya jawabannya?


No comments:

Post a Comment