Pages

13.1.11

Citepus - Karang Hawu (Jabsel 2)

Jelajah Pantai Selatan Jabar (2)

Hari Kedua..

Life Guard Pantai Citepus

Untuk mengejar waktu karena akan melanjutkan perjalanan ke Ujung Genteng, sejak pagi kami sudah menghubungi dan bertemu narasumber di Palabuhanratu. Salah satunya adalah seorang petugas Balawista (Badan Penyelamat Wisata Tirta) yang bertugas di Palabuhanratu, namanya Usup Supriatna (chief instructor). Pagi itu ia memakai kaus merah, dengan tulisan Life Guard berwarna kuning, lengkap dengan kacamata hitam yang ia "tangkringkan" pada topi yang ia kenakan. Sejenak saya jadi teringat film Baywatch yang tayang di televisi pada dekade 90-an, dengan David Hasselhoff dan Pamela Anderson sebagai bintang-bintangnya. 

Sebelum bertugas mengawasi para wisatawan yang hendak ber-banana boat, Usup menyempatkan bercerita bahwa untuk menjadi anggota Balawista perlu menempuh pendidikan dasar yang cukup berat. Anggota Balawista harus terampil dan paham teknik menolong korban, baik yang masih berada dalam keadaan sadar maupun yang pingsan. Ia juga harus paham mengenai rambu-rambu yang ada di laut dan paham karakteristik pantai tempat ia bertugas. Kemudian jika ingin menjadi instruktur yang diakui secara internasional, anggota Balawista harus kembali mengikuti pendidikan di Bali, karena Bali menjadi acuan bagi Balawista di seluruh nusantara. 

Di Kabupaten Sukabumi terdapat sekitar 12 pos pengawasan Balawista, termasuk Ujung Genteng. Pos-pos tersebut berada sepanjang Gado Bangkong hingga Cibangban. Di 12 pos tersebut disebar 96 orang personil Balawista yang setiap musim liburan cukup kerepotan mengawasi wisatawan yang membludak. Tugas ini dipersulit pula dengan ketidaktahuan atau kebandelan wisatawan yang kurang memperhatikan rambu-rambu yang sudah dipasang di pantai. Apalagi Pantai Selatan Jabar dikenal berbahaya karena arusnya. 

Rambu-rambu yang umum dipasang di pantai adalah:

  • Bendera merah, yang artinya dilarang berenang.
  • Bendera merah-kuning, artinya diperbolehkan berenang namun di bawah pengawasan.

Jadi sebaiknya sebagai pengunjung yang baik dan ingin pulang dengan selamat, jangan lah melanggar rambu-rambu tersebut. 

***

Pantai Karang Hawu


Pantai ini letaknya masih di Palabuhanratu, namun berjarak sekitar 5 km lagi dari tempat kami menginap (Hotel Augusta). Menurut penduduk Palabuhan Ratu, Karang Hawu yang terletak di Jl. Raya Cisolok ini merupakan pantai favorit. Saat saya berkunjung, di pantai ini sedang dibangun sea wall. tembok pembatas antara pantai dan jalan raya ini membuat pedagang tidak lagi bebas membangun kios di pinggir pantai, sehingga pemandangan ke arah pantai tidak terhalang, sekaligus menghilangkan kesan kumuh.

Menurut Irman (31), salah seorang pedagang makanan di Karang Hawu, penataan ini dilakukan setelah tsunami tahun 2006. Saat itu air laut sampai menggenangi kios-kios. "Dulu kami membangun di pinggir pantai, karena pengunjung sambil makan bisa lihat laut. Setelah air pasang, kios dipindahkan ke seberang jalan. Untuk menyewa kios, kami membayar iuran ke desa Rp 50.000 per bulan. Kalau lebaran atau hari-hari besar ada lagi tambahan retribusinya," papar Irman.

Pantai Karang Hawu pada hari-hari besar atau musim liburan memang ramai pengunjung. Bahkan menurut Irman, saat lebaran atau tahun baru, kemacetan lalu lintas bisa terjadi mulai Palabuhanratu sampai Karang Hawu. Momen seperti itu membawa berkah tersendiri bagi para penjaja makanan atau pakaian di sekitar Karang Hawu, yang sangat mengandalkan pendapatan dari kunjungan wisatawan. (Bersambung...)

No comments:

Post a Comment